Selasa, 15 Desember 2015

Tempat wisata yang terletak di Jawa tengah ini begitu memukau, namun masih banyak yang mengeksplorasinya secara mendalam. 

6 Pesona Dieng yang Belum Anda Ketahui

Dieng pegunungan yang menjadi salah satu lokasi wisata menarik yang ada di Jawa Tengah dan sangat cocok bagi mereka yang ingin menikmati udara segar pegunungan maupun hanya untuk menikmati pemandangan di sana.. Pegunungan Dieng sebagai perbatasan yang terletak diantara kota Wonosobo (Kecamatan Kejajar) dan Kota Banjarnegara (Kecamatan Batur).
Meskipun biasanya pegunungan identik dengan pohon-pohon saja, namun siapa sangka Dieng yang dapat ditempuh sekitar 30-60 menit dari pusat kota Wonosobo ini memiliki banyak tujuan wisata yang penuh pesona. Bahkan tidak sedikit wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Dieng ini. Pesona – pesona apa saja sih yang ada di Dieng ?
1. Telaga Warna 
                       
Telaga Warna merupakan salah satu telaga yang cukup terkenal di Dieng. Telaga ini merupakan bekas letusan dari Gunung Purba Dieng ratusan tahun silam. Dari namanya saja, kita bias tahu bahwa telaga ini memiliki keunikan yaitu air telaga tersebut dapat berubah- ubah warna. Terkadang air akan terlihat berwarna hijau dan kuning, dan terkadang air juga akan terlihat berwarna seperti pelangi. Perubahan warna air ini karena air di Telaga Warna ini mengandung sulfur yang cukup tinggi, sehingga saat air terkena sinar matahari air akan nampak berwarna-warni.
Di sekeliling telaga warna sendiri terdapat bukit-bukit yang juga penuh pesona. Bahkan tak jauh dari telaga warna juga terdapat beberapa gua yang tak boleh ketinggalan untuk dikunjungi, yaitu Gua Semar, Gua Jaran, dan Gua Sumur.
2. Telaga Pengilon
Telaga Pengilon sendiri terletak bersebelahan persis denganTelaga Warna  dan hanya berbataskan rerumputan yang berbentuk seperti rawa kecil. Akan tetapi, warna dari telaga ini bening seperti tidak tercampur belerang. Meskipun berada berdekatan dengan Telaga Warna.
3. Kawah Sikidang 
                      
Selain telaga-telaganya yang indah, Dieng juga cukup terkenal dengan wisata kawahnya. Salah satu kawah yang terkenal adalah Kawah sikidang yang merupakan kawah vulkanik aktif. Sekitar kawah Sikidang memang terlihat sedikit tandus, namun semua terbayarkan karena pemandangan disana sangat mempesona. Kawasan kawah di kelilingi oleh perbukitan dan terdapat kolam yang terus mengepulkan asap dari kolam tersebut. Kepulan asap membuat kawah sikidang semakin mempesona meskipun bau belerang di kawah sikidang terasa sangat menyengat.
Kawah Sikidang ini juga terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah. Selain kawah sikidang masih ada beberapa kawah lain di pegunungan dieng, akan tetapi kawah lain ada yang mengeluarkan asap racun dan lokasi cukup jauh dari lokasi wisata lainnya.
4. Kompleks Candi
              
     Di Dieng sendiri terdapat satu kompleks lokasi dimana terdapat candi peninggalan Kerajaan Hindu di area tersebut. Di kompleks candi tersebut terdapat candi yang di kenal candi pandawa, di sana terdapat beberapa bangunan candi dengan latar pegunungan Dieng serta lokasi sekitar candi yang tak kalah pesonanya.
5. Dieng Plateau Theater
                
Dieng plateau sendiri merupakan tempat dimana kita dapat menyaksikan kembali tayangan peristiwa meletusnya kawah sinila dulu  pada 20 Februari 1979 yang memakan banyak korban tewas baik manusia maupun ternak.
6. Gunung Prahu dan Sikunir
Bagi mereka yang gemar mendaki, maupun pemula dalam hal mendaki dapat menjajal untuk mendaki di Sikunir maupun Gunung Prahu. Karena saat fajar tiba kita dapat menikmati indahnya sunrise di puncak Sikunir. Selain itu,  terdapat Desa wisata di dekat Sikunir ,yaitu desa Sembungan yang terkenal dengan sebutan desa di atas awan, karena sembungan merupakan desa tertinggi d pulau jawa yang juga menjadi tempat wisata.

Bendung Banjar Cahyana Kian Tak Terawat

Bangunan peninggalan Kolonial Belanda terbengkalai dan tidak terawat

Bendung Banjar Cahyana Kian Tak Terawat

BANJARNEGARA – Bendung Banjar Cahyana saat ini kian tak terawat. Padahal, bangunan  peninggalan pemerintahan kolonial Belanda ini memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi obyek wisata. Namun, karena lama tidak terpakai, bangunan bersejarah tersebut kini nampak rusak.
Bangunan terowongan air utama di bawah pintu bendungan hingga pintu keluar tertutup lumpur. Badan sungai dari pintu terowongan utama menuju pintu terowongan bawah sungai Merawu kurang lebih sepanjang 100 meter yang dulu selebar kurang lebih tiga meter, kini tinggal satu meter karena tertutup lumpur.
Ketua Pokdarwis Banjar Cahyana, Wiwin Purwo Setiono mengatakan, Bendung  Banjar Cahyana yang terletak di wilayah Kelurahan Rejasa Kecamatan Madukara ini memiliki sejumlah keunikan. “Salah satu keunikan dari bendung ini adalah saluran irigasi sepanjang 200 meter yang dibuat melewati bawah Sungai Merawu.  Jadi, sungai yang mengalir ada di bawah sungai,” katanya.
Dijelaskannya, Banjar Cahyana ini merupakan bangunan peninggalan Belanda yang diresmikan pada tahun 1912. “Pada masa kejayaannya, Bendung Banjar Cahyana yang mengambil air dari Sungai Serayu ini mampu mengairi area persawahan seluas 5500 ha dari Desa Banjar hingga Desa Cahyana di Kabupaten Purbalingga,” jelasnya.
Karena kondisi bangunan yang tidak terawat, pihaknya berharap bangunan itu dapat dikelola sebagai obyek wisata baru. Keinginan ini didasari pada potensi pemerintah segera melakukan upaya  normalisasi. Termasuk, pembangunan jalan menuju lokasi yang hanya kurang beberapa meter.
Lurah Rejasa, Freyana Kusuma mengatakan, selain sejumlah perbaikan tersebut, akses jalan setapak  menuju bendungan yang berada di bawah juga membutuhkan perbaikan. Rumput dan pepohonan yang tumbuh liar menutupi bangunan juga harus dibersihkan agar obyek utama terlihat bersih. Termasuk tulisan Bendung Tjahyana 1912 yang ada di dinding bendungan.
Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno mengatakan, Banjar Cahyana layak menjadi obyek wisata. Sebab memiliki keunikan yang tidak dimiliki tempat lain.
“Keunikan ini merupakan salah satu poin penting mengembangkan kepariwisataan,” ujarnya. Meskipun demikian, keunikan tidak akan ada artinya jika tidak disertai kebersihan dan keramahan penduduk sekitar.

Bukit Watu Meja Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Banyumas

Bukit Watu Meja (Batu Meja, red.) di Desa Tumiyang berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata Kabupaten Banyumas, kata Kepala Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas Deskart Setyo Jatmiko.
"Hanya saja di sana belum terbentuk desa wisata, minimal organisasinya, yakni kelompok sadar wisata atau pokdarwis. Jangan sampai nanti saat kami meluncurkan program-program, tidak ada yang menerima," katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, seperti dikutip dari Antara, Jumat (30/10/2015).
Ia mengakui bahwa pihaknya sebenarnya bisa mendorong Pemerintah Desa Tumiyang, Kecamatan Kebasen, untuk membentuk pokdarwis sebagai organisasi yang akan mengelola desa wisata.
Akan tetapi jika pembentukan pokdarwis itu dilakukan atas dorongan Dinporabudpar, kata dia, masyarakat setempat dikhawatirkan tidak cocok terhadap komposisi di dalam organisasi tersebut.
"Memang harusnya ada lembaga partisipatif yang didorong oleh pemerintahan setempat untuk membangun Watu Meja. Paling bagus yang mendorong adalah desa yang memangku wilayah tersebut, yakni Desa Tumiyang," katanya.
Menurut dia, pengembangan Bukit Watu Meja yang sudah banyak dikunjungi wisatawan lokal dalam beberapa bulan terakhir itu dilakukan oleh masyarakat setempat yang mendapat dorongan dari Pemerintah Kecamatan Kebasen.
Berdasarkan surat dari Pemerintah Kecamatan Kebasen, kata dia, wisata alam yang ditawarkan berupa melihat keindahan lembah Sungai Serayu dari atas Bukit Watu Meja.
Lebih lanjut, Deskart mengatakan bahwa budaya perairan yang dimiliki Desa Tumiyang dapat digarap sebagai potensi wisata.
"Budaya itu tidak hanya tarian-tarian saja tapi bagaimana pola kehidupan sehari-harinya, sistem ekonominya, lalu pranata sosialnya seperti apa, bahasa, dan lain-lain," katanya.
Bukit Watu Meja merupakan sebuah bukit yang di salah satu sudutnya terdapat batu menyerupai meja.
Dari atas Bukit Watu Meja, wisatawan dapat melihat keindahan lembah Sungai Serayu yang berkelok termasuk jembatan kereta api yang melintas di atasnya.
Bukit Watu Meja mudah dijangkau karena berada di jalan alternatif Patikraja (Banyumas)-Sampang (Cilacap) yang merupakan jalan lama penghubung Purwokerto-Cilacap.

Senin, 14 Desember 2015

Add caption
Dampak Penetapan APDB P Terlambat
BANJARNEGARA – Perbaikan jalan Madukara – Batur via Pagentan diundur. Jalur tersebut memang rusak dan banyak yang berlubang sejak setahun lalu. Sedianya perbaikan akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. Namun harus ditunda karena Perubahan APBD yang terlambat.
Wakil Ketua DPRD Kabupaten Banjarnegara, Bawono mengatakan, sebenarnya perbaikan jalur tersebut telah dianggarkan dalam APBD Perubahan 2015. “Dalam APBD Perubahan sebesar Rp 6.5 miliar. Tapi tidak bisa dilaksanakan karena waktunya sangat mepet,” kata politisi Parta Golkar ini. Sehingga perbaikan akan diluncurkan pada awal tahun.
Bawono menjelaskan dari dana Rp 6,5 miliar ini ada tiga titik yang perbaikannya menggunakan dana cukup besar. “Di hutan mau masuk Desa Clapar Kecamatan Madukara. Di jembatan di tengah Desa Clapar dan di atas Bendungan PLTA Tulis di Desa Clapar, Kecamatan Madukara,” terangnya.
Anggota DPRD Kabupaten Banjarnegara, Ahmad Salabi mengatakan, terdapat beberapa titik yang cukup parah. “Yaitu di jalur Bulukuning menuju Sokaraja, jalur Larangan – Aribaya dan di PLTA Tulis yang  jalannya tinggal separo,” jelasnya.
Karena kondisi medan yang sudah tidak memungkinkan diperbaiki, akan dibangun jalan baru di atas PLTA. “Sedang dibikin jalur baru di sebelah utara. Panjangnya sekitar sekitar 100 meter,” lanjutnya.
Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo mengatakan perbaikan jalan belum bisa dilaksanakan karena penetapan APBD Perubahan yang mepet. Sebab APBD Perubahan baru ditetapkan menjelang akhir tahun. “Akan diluncurkan tahun depan,” jelas dia.
Menurut dia, penundaan ini membawa dampak negatif sekaligus positif. Dampak negatifnya, masyarakat tidak bisa segera menikmati jalan yang mulus. Dampak positifnya, pekerjaan akan dikerjakan ketika musim kemarau. Sehingga diharapkan, kualitasnya akan lebih bagus karena tidak terpengaruh hujan.
Warga Pasang Lempeng Baja Untuk Menyeberang
KARANGANYAR-Kondisi jembatan penghubung Desa Kalijaran-Kaliori semakin mengkhawatirkan. Untuk membantu  mobilitasi masyarakat, warga berinisiatif memasang dua lempeng baja untuk membantu mobilitas masyarakat yang menggunakan sepeda motor.
Masyarakat sangat berharap, perbaikan  jembatan  tersebut bisa cepat dilakukan, agar mobilitas masyarakat bisa kembali normal.
Meskipun hanya  menggunakan dua lempeng baja yang dipasang, banyak warga yang melalui jalan tersebut.
Sebab jalan tersebut dianggap lebih cepat daripada harus meutar jalan dan lebih jauh. Warga Dusun Kalibulan, Desa Kalijaran Sumarno (38) mengatakan, saat masyarakat melalui jebatan dari dua lempeng baja akan dibantu oleh masyarakat lain.
“Bahaya, jadi warga ada yang berjaga dan membantu penyebrangan. Jalannya juga sempit jadi motor harus tetap seimbang agar tidak jatuh,” ujarnya.
Lempeng baja tersebut dipasang hanya untuk pengendara sepeda motor saja. Sedangkan kendaraan roda empat akan dialihkan melalui jalur melalui jalan Dukuh Manis, dan Grumbul Pegunungan Desa Karanganyar.
Kepala Desa Kalijaran, Supriyanto mengatakan, putusnya jembatan penghubung dua desa yang berada di RT 01/04, Dusun 3 Grumbul Kalibulan, Desa Kalijaran  memang berdampak luas terhadap  aktivitas masyarakat.
“Meskipun sudah dipasang lempeng baja, saat hujan juga sangat membahayakan karena jalan yang licin,” jelasya. Seperti diberitakan sebelumnya, hujan deras yang turun Selasa (1/12) sore,  mengakibatkan jembatan penghubung Desa Kalijaran-Kaliori yang berada di RT 01/04, Dusun 3 Grumbul Kalibulan, Desa Kalijaran ambles.
Akibatnya, sebagaian masyarakat Desa kaliori dan sebagian warga Kalijaran harus memutar lebih jauh akibat ambalasnya jembatan penghubung dua desa tersebut.
Jembatan  Kalibulan , Desa Kalijaran merupakan jembatan utama penghubung Desa Kalijaran dan Kaliori. Putusnya jembatan tersebut membuat mobilitas masyarakat dua desa terganggu.
Jembatan tersebut,  dibangun tahun 1988 dengan dana Bandes. Jembatan yang berada di antar Kaliputat dan  Kali Kuning memang  tidak terlihat adanya tanda kerusakan awal. Diduga, derasnya air di kaliputat menggerus dan  bagian bawah dan  membuat amblas jembatan
Di Pejogol Dapur Juga AmbrukRumah Ambruk Timpa Penghuni
BANYUMAS-Akibat kontruksi bangunan yang tidak standar, rumah milik Sriyanto (30) warga RT 4 RW 4 Desa Cibangkong Kecamatan Pekuncen ambruk dan menimpa pemilik rumah,  Kamis (10/12) pukul 22.00.
Akibatnya, Sriyanto harus dilarikan ke Puskesmas Pekuncen karena mengalami luka di bagian kepala. Sedangkan istrinya, Mei Indriyani hanya mengalami luka lecet di kepala.
Informasi yang diperoleh, saat kejadian wilayah tersebut tidak sedang turun hujan. Tiba-tiba rumah dengan ukuran 5 x 7 meter ambruk menimpa penghuni rumah yang sedang tidur.
Sriyanto mengalami luka di bagian kepala dan mendapat perawatan di Puskesmas Pekuncen dengan tiga jahitan. Sedangkan istrinya, Mei Indriyani hanya mendapatkan luka lecet di kepala.
Salah satu warga setempat, Sudiro menjelaskan, saat kejadian dia mendengar suara keras dari arah rumah korban. “Rumah saya hanya berjarak 20 meter dari rumah korban. Tiba-tiba ada suara keras, langsung saya lari keluar karena belum tidur. Ternyata rumah Sriyanto ambruk,”jelas Sudiro, Jumat (11/12).
Usai kejadian, warga banyak yang berdatangan dan melakukan pencarian penghuni rumah yang kemudian bisa keluar dari reruntuhan puing-puing rumah. Melihat kondisi luka di kepala Sriyanto, warga langsung membawanya ke Puskesmas Pekuncen.
“Penghuni rumah bisa keluar dari dalam rumah yang ambruk. Tetapi kondisi Sriyanto berdarah di bagian kepala. Sehingga oleh warga diantar ke Puskesmas untuk mendapat perawatan,”jelasnya.
Kondisi rumah dengan tembok bata tersebut pada malam sampai pagi hari pukul 07.00 masih dibiarkan. Namun pada jam tersebut, warga setempat melakukan pembersihan material rumah yang ambruk. “Baru pada pagi harinya kami bersihkan. Sedangkan korban sudah pulang pada Jumat pagi,”katanya.
Plt Danramil Pekuncen Kapt Arm Paino mengatakan, akibat kejadian rumah ambruk tersebut, korban yang setiap hari berjualan Siomay mengalami kerugian mencapai Rp 50 juta. Pada Jumat (11/12), pihak Muspika bersama warga melakukan pembersihan puing-puing rumah.
Di RT 7 RW 3 Desa Pejogol Kecamatan CIlongok, dapur rumah milik Ikhsan (50), Jumat (11/12) pukul 10.00 ambruk. Diduga karena bangunan yang terbuat dari bambu dan kayu sudah rapuh, dapur yang setiap hari masih digunakan untuk memasak ambruk. Satu sepeda motor ikut tertimpa bangunan dengan taksiran kerugian mencapai Rp 10 juta.
Danramil Cilongok Kapt Czi Waris Hidayat mengatakan, usai kejadian tersebut anggota Koramil 23/Cilongok langsung membanatu warga dengan membersihkan material bangunan. Untuk penyebab kejadian, diduga karena bangunan sudah rapuh beruntung saat kejadian pemilik rumah sedang tidak berada di dapur

Minggu, 13 Desember 2015


Akhirnya Kamus Bahasa 'Ngapak' Banyumas Diterbitkan
Akhirnya Kamus Bahasa 'Ngapak' Banyumas Diterbitkan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, menerbitkan Kamus Bahasa Jawa Banyumasan.
Kamus bahasa yang disusun awal oleh Budayawan BanyumasAhmad Tohari dan kawan-kawan ini secara simbolis diserahkan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah Pardi Suratno kepada BupatiBanyumas Achmad Husein, Rabu (4/2/2015).
Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah Pardi Suratno mengatakan bahwa selama ini pengajaran bahasa lokal Jawa banyak mengacu pada bahasa standar, yakni bahasa Jawa Surakarta.
Menurutnya hal ini menyebabkan kendala bahasa untuk belajar, membaca, dan berbicara dalam bahasa standar tersebut. Sementara di beberapa wilayah, juga ada bahasa daerah dengan dialek yang berbeda.
“Ada perasaan ragu-ragu bagi sebagian penutur untuk menggunakan dialek tersebut dalam komunikasi sosial di antara masyarakat” kata Pardi Suratno.
Dia menyebut bahasa Banyumasan terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta, dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'.bitkan

Rabu, 09 Desember 2015

GOLDEN ANNYVERSARY REUNI AKBAR SMK YPT PURBALINGGA LUSTRUM X

ALUMNI STM YPT DI AJAK PEDULI PURBALINGGA

PURBALINGGA (BanyumasNews.Com) – Bupati Purbalingga Sukento Rido Marhaendrianto mengajak alumni Sekolah Tehnik Menengan Yayasan Pendidikan Tehnologi (STM YPT) Purbalingga yang telah sukses untuk terus meningkatkan kepeduliannya terhadap Purbalingga. 
Data yang diperoleh Bupati, hingga saat ini sedikitnya ada 15.000 alumni yang sukses dan tersebar tidak hanya di wilayah Indonesia bahkan di manca negara. Menurut Bupati, potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu Purbalingga dalam membangun masyarakat yang mandiri, berdaya saing dan berakhlak mulia.
“Jika satu alumni bisa menarik 2 saja tenaga kerja warga Purbalingga, maka akan ada 30 ribu orang yang mendapat pekerjaan. Jika satu alumni menarik 4 orang jadi ada 60 ribu warga yang tersalurkan. Artinya persoalan pengangguran di Purbalingga akan cepat teratasi,” ungkap Bupati Sukento Rido Marhaendrianto, dihadapan ribuan alumni dalam kegiatan Reuni Akbar dan Silarutahmi Keluarga Besar YPT Purbalingga, di komplek Perguruan STM YPT Purbalingga, Sabtu (2/8).
Selain Bupati, Reuni Akbar “YPT Golden Unniversary 50th” juga dihadiri Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko, Wakil Bupati Tasdi, jajaran Dinas dan tokoh Pendidikan Purbalingga, para mantan guru dan pengurus yayasan serta ribuan alumni tahun 1964 – 2011.
Menurut Sukento, selain dibidang tenaga kerja, alumni YPT juga memiliki potensi